BANDARLAMPUNG — Perbaikan daya beli petani di Lampung tidak merata di semua sektor. Subsektor perkebunan rakyat mencatat lonjakan tertinggi, sementara peternak dan pekebun hortikultura justru mengalami tekanan penurunan nilai tukar.
Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Lampung, Hermawan Prasetyo, menyebut indeks harga yang diterima petani (It) naik 2,11 persen menjadi 172,46. Angka ini lebih tinggi dibanding kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang hanya tumbuh 2,09 persen menjadi 130,03.
"Kondisi ini mencerminkan adanya perbaikan daya beli petani di Provinsi Lampung," ujar Hermawan dalam paparan daring di Bandarlampung, Senin.
Kenaikan harga gabah, kopi, dan kakao menjadi penopang utama pertumbuhan NTP. Subsektor tanaman perkebunan rakyat melesat 2,63 persen ke level 166,61, disusul tanaman pangan yang menguat 2,45 persen menjadi 112,70.
Perikanan juga ikut mendorong tren positif dengan kenaikan 1,50 persen. Namun, pertumbuhan ini timpang—perikanan budidaya naik signifikan 2,40 persen, sementara perikanan tangkap hanya bergerak tipis 0,21 persen.
Dua subsektor justru mencatat koreksi. Nilai tukar petani hortikultura turun 0,78 persen menjadi 133,40, sementara subsektor peternakan menyusut tipis 0,23 persen ke angka 99,06—hampir menyentuh ambang batas di bawah 100 yang menandakan peternak belum untung.
Hermawan menjelaskan, beban biaya yang dibayar petani sedikit meningkat akibat naiknya harga kebutuhan pangan rumah tangga seperti bawang merah, cabai merah, dan telur ayam.
NTP merupakan indikator utama kesejahteraan petani. Angka di atas 100 berarti harga jual hasil panen lebih tinggi dibanding biaya yang dikeluarkan untuk produksi dan konsumsi harian.
Dengan NTP 132,64, secara rata-rata petani Lampung memiliki ruang fiskal lebih besar untuk menabung atau meningkatkan konsumsi. Namun disparitas antarsubsektor menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan stabilisasi harga pakan ternak dan input pertanian hortikultura.