INDRAMAYU — Desa Juntiweden di Kabupaten Indramayu menjadi tujuan pengabdian masyarakat bagi 14 mahasiswa asing dari National Dong Hwa University (NDHU) Hualien, Taiwan. Mereka akan tinggal dan berinteraksi dengan warga setempat selama hampir satu bulan penuh.
Kedatangan rombongan mahasiswa ini merupakan bagian dari program MOE Overseas & New Southbound Internship Program yang digagas pemerintah Taiwan. Program ini dirancang untuk mempererat hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Indramayu tidak dipilih secara kebetulan. Kabupaten ini dikenal sebagai salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Indonesia, menjadikannya lokasi yang relevan untuk kegiatan yang menyasar komunitas buruh migran.
Kegiatan ini dibimbing langsung oleh Prof. Li-fang Liang, dosen NDHU yang telah menekuni riset di bidang migrasi selama puluhan tahun. Ia bahkan pernah meneliti pekerja migran Indonesia yang bekerja di Taiwan.
“Terlepas dari nanti kami akan melakukan banyak kegiatan di sini, tentu ini menjadi kesempatan berharga bagi kami, rombongan dari Taiwan, untuk belajar dari masyarakat Indonesia,” ujar Li-fang di Balai Desa Juntiweden pada 3 Agustus 2026.
Migrant CARE Indramayu bertindak sebagai tuan rumah yang memfasilitasi seluruh rangkaian aktivitas para mahasiswa selama berada di desa tersebut.
Kegiatan yang disiapkan terbagi dalam dua kategori besar. Kategori pertama adalah program pemberdayaan masyarakat yang menyasar komunitas pekerja migran, termasuk mereka yang tergabung dalam Desa Peduli Buruh Migran (DESBUMI), calon pekerja migran, dan anak-anak yang ditinggalkan orang tuanya bekerja di luar negeri.
Dalam program ini, para mahasiswa menggelar workshop migrasi aman yang membahas hak-hak pekerja migran di Taiwan, perbedaan budaya Indonesia dan Taiwan, hingga sosialisasi kesehatan mental.
Materi ini disusun berdasarkan fakta bahwa masih banyak pekerja migran yang belum bisa membedakan antara menagih haknya atau melawan. Alhasil, mereka kerap pasrah saat menerima gaji di bawah standar, enggan menolak permintaan majikan di luar pekerjaan utama, hingga memilih jalur ilegal saat menghadapi masalah.
Peserta workshop diharapkan mampu menjadi pihak yang mengedukasi calon pekerja migran Indonesia, khususnya yang ingin bekerja di Taiwan. Tujuannya agar mereka tidak terjebak oleh 'janji manis' para calo dan tidak terjerumus ke dalam praktik kerja paksa.
Di luar workshop, para mahasiswa juga memberikan pelatihan tentang cara warga Taiwan mengolah sampah serta berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.
Kategori kedua adalah program pendidikan yang menggandeng SDN Juntiweden II. Para siswa akan diajarkan membuat kaligrafi Mandarin, membaca buku berbahasa Mandarin, hingga bermain board game bersama.
Interaksi ini diharapkan menjadi stimulus bagi anak-anak agar mereka ingin pergi ke luar negeri untuk belajar, bukan hanya bekerja di sektor informal.
Program ini mempertimbangkan fakta bahwa banyak siswa-siswi di Indramayu yang tidak lagi tertarik menempuh pendidikan tinggi. Mereka lebih memilih langsung bekerja di luar negeri walaupun di sektor informal, asalkan gajinya lebih tinggi daripada bekerja di Indonesia dengan kemampuan yang relatif terbatas.
Kepala Desa Juntiweden, Carsudi, menyambut baik kedatangan rombongan mahasiswa Taiwan. Ia mengaku senang dan merasa terhormat karena desanya dipilih sebagai lokasi pengabdian masyarakat oleh mahasiswa asing.
“Saya berharap warga dan komunitas di Desa Juntiweden bisa belajar banyak dari teman-teman Taiwan ini. Semoga para mahasiswa betah dan kerasan tinggal di sini,” kata Carsudi di Balai Desa Juntiweden pada 3 Agustus 2026.