Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung Belajar Menulis Opini dan Berita Berbantuan AI di Kantor JMSI Lampung

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Sabtu, 08 Agustus 2026 | 13:53:01 WIB
Lima mahasiswa UIN Raden Intan Lampung mengikuti pelatihan penulisan opini dan berita berbantuan kecerdasan buatan di Kantor JMSI Lampung.

BANDAR LAMPUNG — Sebanyak lima mahasiswa UIN Raden Intan Lampung mendapat pembekalan khusus soal pemanfaatan kecerdasan buatan dalam dunia tulis-menulis. Pelatihan yang berlangsung di Kantor Sekretariat JMSI Lampung ini menitikberatkan pada cara menggunakan AI secara etis dan bertanggung jawab, bukan menggantikan peran penulis.

Wakil Sekretaris Sekretariat JMSI Lampung, Junaidi Ismail, menegaskan bahwa posisi AI dalam proses kreatif hanyalah pendukung. Teknologi ini bisa dipakai untuk merumuskan ide, menyusun kerangka tulisan, merangkum data, hingga memperbaiki struktur kalimat.

"Penulisan opini publik yang dibantu oleh AI merupakan pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai alat bantu (tools) untuk merumuskan ide, menyusun kerangka tulisan, merangkum data, atau memperbaiki kalimat. Namun, orisinalitas argumen, sudut pandang etis, dan pengalaman nyata tetap harus berasal dari penulis manusia," ujar Junaidi.

Ia menambahkan, penggunaan AI dalam jurnalistik wajib diimbangi kemampuan berpikir kritis dan verifikasi informasi. Tanggung jawab terhadap kebenaran data tetap berada di tangan penulis, bukan pada mesin.

AI Bantu Susun Tulisan Lebih Terstruktur, tapi Penulis Harus Tetap Kritis

Saffanatuz Zahidah, salah satu peserta, menilai materi yang diberikan relevan dengan kebutuhan mahasiswa komunikasi yang akrab dengan dunia digital. Menurutnya, AI kini menjadi alat bantu yang memudahkan pekerjaan penulisan berita.

"Pelatihan menulis opini publik dan membuat berita berbasis AI ini sangat diperlukan karena mahasiswa komunikasi tentunya dekat dengan dunia penulisan. AI saat ini sangat membantu pekerjaan sebagai alat bantu dalam pembuatan berita. Materi yang disampaikan juga mudah dipahami dan dapat dipraktikkan secara langsung," ungkapnya.

Senada dengan itu, Yuriqen Raesyah Ramadanisa mengaku pengalaman menulis dengan bantuan AI membuat tulisannya lebih tersusun. Namun, ia menekankan bahwa sikap kritis tetap diperlukan agar hasil akhir akurat dan mencerminkan gagasan pribadi.

"Belajar menulis opini dan berita dengan bantuan AI merupakan pengalaman yang menarik karena tulisan dapat tersusun lebih terstruktur. Namun, penulis tetap harus kritis agar hasil tulisan akurat dan sesuai dengan pemikiran sendiri," ujarnya.

Prinsip Jurnalistik Tidak Bisa Digantikan Mesin

Anis Luthfiah Rahayu menambahkan, AI membantunya mengembangkan ide menjadi tulisan yang runtut. Meski begitu, setiap keluaran dari AI wajib dipahami, disesuaikan, dan diperiksa ulang agar selaras dengan fakta di lapangan.

Sabila Fitri Eall-Yaza mengingatkan bahwa kemudahan yang ditawarkan AI tidak lantas menghapus prinsip dasar jurnalistik. Akurasi, objektivitas, dan tanggung jawab tetap menjadi fondasi yang tidak bisa ditawar.

"Ketelitian tetap menjadi kunci utama dalam profesi jurnalistik. Informasi yang dihasilkan AI harus disaring dan diverifikasi agar tetap sesuai dengan fakta di lapangan," katanya.

Peserta lain, Safna Agustriana, mengungkapkan pelatihan ini memberi wawasan baru tentang penggunaan AI untuk menyusun dan memperbaiki kalimat berdasarkan ide yang sudah dimiliki penulis. Suasana pelatihan yang santai dan interaktif membuat materi mudah dicerna.

Melalui kegiatan ini, para mahasiswa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa mengorbankan kreativitas, etika, dan nilai-nilai jurnalistik yang selama ini menjadi pegangan profesi.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: rakyatnews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top