TEHERAN — Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Sabtu (8/8) menegaskan bahwa negaranya tetap bertekad menempuh jalur damai berdasarkan ketentuan yang tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) yang baru-baru ini diteken bersama Amerika Serikat. Namun, ia memberi syarat tegas: Washington harus menghilangkan suasana ketidakpercayaan yang selama ini diciptakannya.
“Kami bertekad untuk menggunakan MoU tersebut sebagai landasan dengan syarat AS menghilangkan suasana ketidakpercayaan yang telah diciptakannya, dan suasana saling percaya dapat terbentuk,” ujar Pezeshkian dalam konferensi pers yang dikutip dari sumber berita di Jakarta.
Dalam pernyataannya, Pezeshkian menyoroti pentingnya prinsip timbal balik dalam setiap negosiasi dengan AS. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila pihak lawan berupaya menggunakan pendekatan kekuatan atau tekanan.
“Jika pihak lain berupaya menggunakan kekuatan, Iran tidak akan membiarkannya begitu saja,” tegasnya, seraya menambahkan bahwa seluruh keputusan strategis pada akhirnya akan merujuk pada arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei.
Sebelumnya, pada Juni lalu, Iran dan AS telah menandatangani MoU mengenai penghentian perang di semua front, termasuk di Lebanon. Kesepakatan itu awalnya dijadwalkan berlanjut ke babak negosiasi lanjutan dalam kurun waktu 60 hari untuk mencapai kesepakatan final.
Meski demikian, eskalasi terbaru di kawasan Timur Tengah telah menimbulkan ketidakpastian baru mengenai kelanjutan jadwal perundingan tersebut. Situasi ini pula yang mendorong Pezeshkian untuk menegaskan kembali posisi prinsipil negaranya di hadapan publik.
Pezeshkian menilai bahwa saat ini merupakan waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Ia beralasan, kondisi dalam negeri Iran tengah berada dalam situasi solidaritas, kekuatan, dan persatuan yang utuh.
“Sekarang adalah waktu terbaik untuk mencapai kesepakatan, karena ada solidaritas, kekuatan, dan persatuan di dalam negeri,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan eksternal dan dinamika kawasan yang bergejolak, Teheran mencoba untuk tetap berada di jalur diplomasi sambil menjaga kewaspadaan penuh terhadap manuver Washington.