Konflik Yaman Kian Memanas, Houthi Gempur Kamp Militer di Marib, Puluhan Tentara Pemerintah Jadi Korban

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Minggu, 09 Agustus 2026 | 21:53:01 WIB
Rudal dan drone Houthi menghantam Kamp Sahn al-Jinn di dekat Kota Marib, Yaman, pada Jumat (7/8/2025).

SANAA — Eskalasi konflik di Yaman kembali memanas setelah kelompok Houthi mengklaim sukses melancarkan serangan rudal dan drone dalam jumlah besar ke Kamp Sahn al-Jinn, dekat Kota Marib. Juru bicara militer Houthi, Yahya Sarea, menyatakan operasi tersebut menyasar pasukan pemerintah, depot senjata, kendaraan, serta peralatan militer di provinsi kaya minyak tersebut.

Seorang pejabat militer yang enggan disebut namanya mengonfirmasi kepada Xinhua bahwa empat tentara pemerintah tewas dan empat lainnya terluka ketika sebuah drone Houthi menyerang pasukan pro-pemerintah di Distrik Harib, Marib selatan. Serangan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah lain yang dikuasai pemerintah pada hari yang sama.

Houthi Tuding Arab Saudi Siapkan Aksi Militer

Dalam pernyataannya, Sarea mengatakan bahwa operasi tersebut dilakukan setelah pihaknya mendeteksi mobilisasi militer dan pengiriman pasukan tambahan yang didukung Arab Saudi di wilayah tersebut. Kelompok Houthi menuding Arab Saudi tengah mempersiapkan aksi militer, sehingga serangan pre-emptif ini dianggap sebagai langkah balasan.

Serangan pada Jumat ini merupakan lanjutan dari gelombang serangan Houthi sehari sebelumnya. Pada Kamis (6/8), rudal balistik dan drone Houthi juga menghantam kamp-kamp militer di Marib dan Hadramout. Kala itu, Sarea mengklaim bahwa "ratusan" personel pemerintah tewas atau terluka akibat rentetan serangan tersebut.

Marib, Wilayah Paling Sengit Diperebutkan

Provinsi Marib merupakan salah satu wilayah yang paling sengit diperebutkan dalam perang saudara Yaman. Selain kaya akan cadangan minyak dan gas alam, provinsi ini masih menjadi basis pertahanan utama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional di tengah konflik yang berkepanjangan.

Konflik di Yaman sendiri telah berlangsung sejak akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai sebagian besar wilayah utara, termasuk ibu kota Sanaa. Kondisi itu mendorong koalisi pimpinan Arab Saudi turun tangan pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman yang sah.

Gencatan Senjata Rapuh yang Terus Terancam

Gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sempat membawa harapan damai ketika mulai berlaku pada April 2022. Namun, kesepakatan itu berakhir pada Oktober tahun yang sama tanpa perpanjangan resmi, menyisakan gencatan senjata de facto yang rapuh.

Meskipun sebagian besar garis depan masih bertahan, bentrokan sporadis, serangan artileri, dan serangan drone seperti yang terjadi akhir-akhir ini terus mengancam stabilitas yang sudah rapuh. Serangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik yang telah berlangsung hampir satu dekade itu belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. []

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: web.lintaslampung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top