BANDARLAMPUNG — Pembukaan ketiga agenda akademik internasional itu dihadiri Rektor Unila Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., Duta Besar Kroasia untuk Indonesia Nebojša Koharovi?, para plenary speaker dari berbagai negara, dan Dekan FISIP Unila Prof. Dr. Anna Gustina Z., S.Sos., M.Si. beserta seluruh jajaran pimpinan fakultas.
IICIS 2026 menyatukan gagasan, riset, dan praktik terbaik dari ilmu pemerintahan, sosiologi, komunikasi, hubungan internasional, administrasi bisnis, administrasi publik, studi pembangunan, hingga hukum. Forum ini dirancang sebagai ruang temu lintas disiplin sejak penyelenggaraan pertamanya.
Tema yang diangkat merespons persoalan perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital. Menurut Rektor Unila, persoalan-persoalan itu tidak dapat dijawab oleh satu cabang ilmu saja.
"Tema ini bukan sekadar pilihan intelektual, melainkan respons terhadap kenyataan bahwa tantangan global, perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja. Kita membutuhkan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan ilmu sosial, politik, ekonomi, hukum, komunikasi, lingkungan, dan teknologi," ujar Lusmeilia.
Rektor Unila menjelaskan, blue-green development merupakan paradigma pembangunan yang mengintegrasikan pemanfaatan sumber daya laut dan pesisir secara berkelanjutan dengan prinsip pembangunan hijau. Prinsip itu menekankan perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, dan keadilan sosial.
"Blue-green development mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan daratan dan lautan, pertumbuhan dan keberlanjutan, inovasi dan keadilan sosial. Dia menuntut kita merancang kebijakan, praktik bisnis, tata kelola, dan perilaku kolektif yang mampu menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama komunitas pesisir dan kelompok rentan," tuturnya.
Duta Besar Kroasia untuk Indonesia Nebojša Koharovi? menyampaikan sambutan dalam pembukaan tersebut. Ia mengenang Lampung sebagai provinsi pertama yang dikunjunginya sejak resmi menjabat, saat kerja sama antara Kroasia dan Unila baru dirintis.
"Tujuh tahun lalu kami berada di ruangan yang berbeda, di gedung dan fakultas yang lain, dengan sekitar sepuluh orang dari Kroasia serta beberapa orang dari Universitas Lampung dan universitas lain di Indonesia. Saat itu kami memulai sesuatu yang tidak ada seorang pun tahu ke mana arahnya," ujarnya.
Koharovi? menilai, pihak yang paling optimistis sekalipun saat itu tidak akan menyangka kerja sama tersebut berkembang menjadi summer school dan konferensi internasional seperti sekarang. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada sosok yang dinilainya menjadi penggerak utama keberlanjutan kerja sama itu melalui visi dan dedikasi pribadinya.
Menyinggung situasi hubungan internasional saat ini, Koharovi? menilai kegiatan seperti konferensi dan summer school menjadi langkah penting. Menurut dia, pertemuan lintas negara membantu membawa keadaan yang mulai kacau kembali ke arah yang benar.
"Hubungan internasional saat ini sedang bergerak ke arah yang bahkan kita sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara memperbaikinya. Karena itu, pertemuan semacam ini, baik disebut konferensi maupun summer school merupakan langkah yang tepat, sebuah upaya kemanusiaan yang baik untuk membawa keadaan yang mulai kacau kembali ke arah yang benar," ujarnya.
Ia menegaskan manfaat kegiatan ini tidak hanya dirasakan kalangan akademisi, tetapi juga mahasiswa dan generasi muda. Kegiatan ini sekaligus menjadi fondasi bagi hubungan antarnegara dan antarwilayah yang terlibat.
Di akhir sambutannya, Koharovi? menyampaikan salam dan harapan baik atas nama rombongan 15 profesor asal Kroasia yang hadir. Ia berharap kunjungan ini menjadi kesempatan besar untuk kembali hadir setelah kerja sama yang telah terbangun bertahun-tahun.