LAMPUNG — Schloss Elmau di Krün, Jerman, menawarkan pengalaman menginap yang dirancang untuk pembaca buku, lengkap dengan toko buku sendiri dan perpustakaan menghadap Pegunungan Alpen Bavaria. Hotel ini menggelar 30 hingga 40 presentasi buku dan debat politik setiap tahunnya, menjadikannya destinasi unik bagi wisatawan yang ingin liburan sekaligus memanjakan pikiran. Dari New York hingga Jamaika, sejumlah hotel di dunia kini menjadikan buku sebagai bagian inti dari pengalaman menginap.
Schloss Elmau berdiri di kawasan Krün, Bavaria, Jerman, tepat di jantung Pegunungan Alpen. Resor ini terbagi menjadi dua bangunan utama: Hideaway yang lebih tua dengan Silentium Library dan teras luar ruangan menghadap pegunungan, serta Retreat yang lebih baru dengan Library Lounge dan Bar yang nyaman.
Bagi wisatawan yang ingin liburan tidak sekadar bersantai, hotel ini menawarkan kalender budaya yang mencakup pembacaan karya penulis, festival sastra, debat politik, dan presentasi buku. Semua itu berjalan berdampingan dengan konser musik yang sudah menjadi reputasi properti ini.
Schloss Elmau memiliki toko buku sendiri bernama Food for Thought, plus ruang perpustakaan khusus di kedua bangunannya. Setiap tahun, 30 sampai 40 presentasi buku dan debat politik digelar di sini.
Wisatawan bisa menyelipkan sesi membaca di antara aktivitas hiking, perawatan spa, dan sore santai khas Alpen. Pemandangan pegunungan dari teras perpustakaan menjadi latar yang sulit ditolak bagi pencinta buku.
Library Hotel di Midtown Manhattan mengambil tema sastra secara serius. Sistem Dewey Decimal menjadi cetak biru penginapan: setiap dari 10 lantai kamar mewakili kategori pengetahuan utama, sementara 60 kamar masing-masing berfokus pada subjek spesifik dengan koleksi buku dan karya seni yang sesuai.
Total ada lebih dari 6.000 buku di seluruh hotel. Reading Room yang buka 24 jam menyediakan kopi, teh, camilan, dan ratusan judul untuk dibaca. Lokasinya hanya beberapa langkah dari New York Public Library.
Dibandingkan hotel lain di kawasan Midtown, Library Hotel tergolong lebih ramah kantong. Ini nilai tambah tersendiri bagi wisatawan yang ingin merasakan atmosfer literer tanpa menguras anggaran.
GoldenEye adalah tempat di mana latar dan cerita sulit dipisahkan. Ian Fleming pertama kali datang ke Jamaika semasa Perang Dunia II, lalu kembali pada 1946 untuk membangun retret tepi laut di Oracabessa Bay. Nama properti ini diambil dari operasi militer masa perang.
Di sinilah Fleming menulis seluruh 14 novel James Bond, dimulai dari Casino Royale. Ia sering mundur ke kamar tidurnya untuk bekerja dengan jendela tertutup, menghindari pemandangan Karibia yang dianggapnya terlalu mengganggu.
Kini, Fleming Villa asli masih menjadi bagian dari resor, dengan meja tulisnya tetap di tempatnya. Membaca novel Bond di sini memberi sensasi puitis tersendiri, ditemani laut, taman, dan lanskap tropis yang dulu berada tepat di luar jendela Fleming.
Graduate by Hilton Princeton menjual fantasi kampus yang nostalgik. Lobi hotel dirancang seperti perpustakaan kampus klasik, dengan rak buku menjulang, sentuhan akademik vintage, kursi kulit, dan banyak sudut nyaman untuk membaca.
Hotel ini menempati gedung bersejarah tahun 1918, tak jauh dari kampus Princeton University. Wisatawan bisa mengakses sistem perpustakaan universitas yang besar, termasuk Firestone Library dengan koleksi jutaan buku dan bahan langka.
Bagi yang masih merasakan sensasi senang saat memegang kartu perpustakaan, menginap di sini sekaligus berziarah ke rak-rak buku Princeton adalah paket yang sulit ditolak.
Hotel Lilien menempati bangunan yang dibangun pada 1890-an di Tannersville, New York. Suasana perapian dan ruang baca menjadikannya tempat yang menggoda untuk berselimut sambil membuka buku.
Properti ini cocok bagi wisatawan yang ingin membaca tanpa tergesa-gesa, jauh dari hiruk pikuk kota. Informasi terkini soal fasilitas dan tarif dapat dikonfirmasi langsung ke pihak hotel.
Hotel-hotel ini memahami bahwa membaca bisa menjadi bagian esensial dari pengalaman menginap. Beberapa punya sejarah panjang dengan penulis terkenal sebagai tamu, sementara yang lain menawarkan sentuhan berlebihan yang menyenangkan: perpustakaan pribadi, suite penuh buku, hingga kerja sama dengan toko buku lokal.
Bagi wisatawan Indonesia yang merencanakan liburan ke Eropa atau Amerika, hotel-hotel ini bisa masuk daftar pertimbangan. Rasanya berbeda ketika liburan tidak hanya soal foto, tetapi juga soal meluangkan waktu menikmati satu bab buku ditemani kopi hingga matahari terbenam.
Durasi ideal untuk menikmati pengalaman menginap di hotel literer seperti ini adalah dua hingga tiga malam. Waktu itu cukup untuk menjelajahi koleksi buku, mengikuti acara budaya, dan tetap sempat menikmati fasilitas lain yang ditawarkan.