LAMPUNG — Jonatan Christie menutup perjalanan tim beregu putra Indonesia di Asian Games 2026 tanpa satu pun kemenangan. Tunggal putra peringkat teratas Indonesia itu kalah tiga kali sejak babak perempatfinal, termasuk dari Kunlavut Vitidsarn di partai melawan Thailand. Catatan itu memperpanjang tren buruk Jojo di nomor beregu yang sudah berlangsung sejak 2018.
Kekalahan terakhir terjadi di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Nagoya, Aichi, Jepang, saat Indonesia berhadapan dengan Thailand. Jonatan takluk dari Kunlavut Vitidsarn lewat skor 17-21, 14-21 dalam pertandingan yang berlangsung tanpa perlawanan berarti di gim kedua.
Sejak babak perempatfinal, Jonatan sudah tiga kali diturunkan sebagai tunggal pertama. Hasilnya nihil kemenangan.
Pada laga pembuka melawan Malaysia, Jojo kalah dari Leong Jun Hao dengan skor 22-20, 12-21, 17-21. Duel itu berlangsung ketat di gim pertama sebelum Leong berbalik menguasai dua gim berikutnya.
Kekalahan kedua datang dari Kunlavut Vitidsarn. Tunggal putra Thailand itu menutup pertandingan dalam dua gim langsung, 21-17 dan 21-14.
Pola serupa sudah muncul jauh sebelum Nagoya. Di Asian Games 2018 Jakarta-Palembang, Jonatan kalah dari H.S. Prannoy di perempatfinal dan Kenta Nishimoto di semifinal.
Empat tahun kemudian di Asian Games 2022 Hangzhou, China, ia kembali tumbang di perempatfinal, kali ini dari Lee Yun-Gyu asal Korea Selatan.
Yang membuat catatan ini terasa janggal, Jonatan justru pernah naik podium tertinggi nomor tunggal putra pada Asian Games 2018. Medali emas individu itu kontras dengan rekor beregu yang tak kunjung membaik.
Perbedaan performa di dua nomor ini menjadi sorotan tersendiri. Sebagai tunggal andalan, Jonatan beberapa kali tampil sebagai penentu di ajang beregu seperti Piala Thomas, tetapi di panggung Asian Games hasilnya berbanding terbalik.
Tim beregu putra Indonesia sendiri harus puas dengan perak setelah kalah dari China di partai final. Shi Yu Qi menjadi lawan Jonatan di laga puncak, menambah daftar tunggal kelas atas yang menghentikannya di nomor beregu.
Kekalahan beruntun di nomor beregu biasanya berkaitan dengan format pertandingan yang berbeda: tekanan tim, urutan pemain, dan waktu istirahat yang lebih pendek dibanding nomor individu.
Bagi Indonesia, hasil di Nagoya tetap membawa pulang medali perak. Namun bagi Jonatan, catatan nol kemenangan di nomor beregu Asian Games menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai sejak delapan tahun lalu.