BANDAR LAMPUNG — Perairan Barat Lampung menjadi wilayah paling berisiko pada pembaruan BMKG 24 September. Gelombang di kawasan itu tercatat mencapai sekitar 2,7 meter, dengan angin dari tenggara berkecepatan sekitar 11 km/jam dan arus menuju tenggara sekitar 1 m/s.
Kondisi tersebut membuat nelayan dan operator kapal di pesisir barat Lampung perlu memperhatikan perkembangan gelombang dan angin sebelum melaut. Perairan ini memang dikenal lebih terbuka dibandingkan wilayah teluk yang relatif terlindung.
Data per jam BMKG untuk 25 September menunjukkan gelombang di Selat Sunda Selatan Lampung berada pada kategori sedang, dengan tinggi sekitar 2,0–2,3 meter. Angin bergerak dari tenggara dengan kecepatan sekitar 7–14 knot, sementara angin maksimum dapat mencapai sekitar 18–23 knot.
Kondisi tersebut relatif lebih berisiko bagi kapal kecil, perahu nelayan, maupun aktivitas penyeberangan dibandingkan perairan yang terlindung. Operator kapal penumpang dan kapal wisata di jalur ini diminta memperhitungkan tinggi gelombang sebelum berangkat.
BMKG mencatat Perairan Timur Lampung bagian Selatan dengan gelombang sekitar 0,8 meter pada pembaruan 24 September. Pelabuhan Labuhan Maringgai juga tercatat memiliki gelombang rendah sekitar 0,7 meter.
Perbedaan tinggi gelombang antara perairan barat dan timur ini membuat aktivitas pelayaran di wilayah timur lebih aman. Meski begitu, perubahan angin dan gelombang tetap dapat terjadi sewaktu-waktu.
Perairan timur dan sejumlah wilayah teluk cenderung memiliki gelombang rendah karena posisinya yang lebih terlindung dari hembusan angin. Sementara Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda Selatan Lampung lebih terbuka sehingga gelombang dapat mencapai 2–3 meter.
Perbedaan ini membuat pola peringatan dini tidak bisa disamaratakan untuk seluruh wilayah Lampung. Masyarakat yang beraktivitas di laut perlu menyesuaikan kewaspadaan dengan kondisi perairan setempat.
Bagi nelayan, kapal penumpang, kapal wisata, dan masyarakat yang beraktivitas di laut, penting memantau pembaruan BMKG sebelum berangkat. Kondisi angin dan gelombang dapat berubah cepat, terutama di perairan terbuka.
Pembaruan BMKG menjadi acuan utama karena memuat data tinggi gelombang, kecepatan angin, dan arah arus per wilayah. Informasi tersebut membantu nelayan menentukan apakah aman melaut atau sebaiknya menunda keberangkatan.