LAMPUNG TIMUR — Sugiman, petani berusia 55 tahun, mengelola lahan semangka seluas 2 hektare di Desa Braja Asri. Tanaman yang dirawatnya kini berusia sekitar 55 hari dan tinggal menghitung hari menuju masa panen pada usia 60 hari.
Modal yang sudah dikeluarkan untuk menggarap lahan itu mencapai sekitar Rp40 juta. Seluruh biaya tersebut bertumpu pada satu syarat utama: pasokan air yang tidak boleh putus.
Setiap dua hari sekali, Sugiman harus memastikan lahan semangkanya mendapat siraman sekitar 180 meter kubik air. Sumbernya bukan dari irigasi, melainkan rawa di sekitar lahan pertanian.
Air disedot menggunakan mesin pompa atau alkon, lalu dialirkan lewat selang panjang hingga mencapai bedeng tanaman. Cara itu menjadi satu-satunya jalan agar semangka bisa bertahan sampai panen.
"Air sangat menentukan pertumbuhan semangka. Kalau kekurangan air, tentu akan berpengaruh terhadap kondisi tanaman dan hasil produksi," kata Sugiman.
Persoalan tidak berhenti pada ketersediaan air. Mesin penyedot yang digunakan Sugiman sudah cukup usang sehingga proses pengairan kerap tersendat, terutama saat kemarau memanjang.
"Mesin penyedot air yang saya gunakan sudah tua. Saya sangat membutuhkan mesin yang lebih baik agar pengairan tanaman bisa berjalan lancar," ujarnya.
Bagi petani semangka, dua faktor itu saling mengunci. Tanpa air, tanaman gagal tumbuh. Tanpa mesin yang layak, air di rawa tidak bisa dipindahkan ke lahan tepat waktu.
Sugiman berharap pemerintah memberi perhatian pada persoalan yang dihadapi petani, khususnya sarana pengairan dan peralatan pertanian. Menurutnya, dukungan terhadap kebutuhan dasar itu bisa membantu petani mempertahankan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka.
"Kami berharap pemerintah memperhatikan kondisi petani. Air sangat kami butuhkan untuk mempertahankan tanaman sampai panen," kata Sugiman.
Panen semangka di lahan Sugiman tinggal menunggu hitungan hari. Namun hingga air dan mesin pompa tersedia lebih baik, perjuangan petani di Braja Asri belum benar-benar selesai.