BANDAR LAMPUNG — Prakiraan cuaca maritim yang dirilis BMKG Maritim Lampung menempatkan dua wilayah perairan pada kategori berisiko tinggi. Di Perairan Barat Lampung, tinggi gelombang berangsur naik sejak dini hari dari sekitar 2,5 meter, menyentuh 3,3 meter pukul 07.00 WIB, lalu memuncak di angka 3,4 meter pada rentang pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
Angin di wilayah itu bergerak dari Tenggara ke Selatan dengan kecepatan 10–12 knot. Kecepatan puncaknya bisa menyentuh 23 knot, angka yang cukup untuk mengganggu manuver kapal berukuran kecil.
Pola serupa muncul di Selat Sunda Selatan Lampung. Gelombang naik dari 2,5 meter pukul 01.00 WIB menjadi 2,9 meter pukul 04.00 WIB, kemudian menembus 3,4 meter sekitar pukul 10.00–13.00 WIB.
Memasuki sore hingga malam, tinggi gelombang masih bertahan di kisaran 3,3 meter. Rentang pagi sampai sore menjadi waktu paling rawan bagi aktivitas pelayaran di perairan terbuka.
Teluk Lampung relatif lebih terlindung dibandingkan dua wilayah sebelumnya, tetapi tetap mengalami kenaikan. Di bagian utara, gelombang tercatat sekitar 1,1 meter pada dini hari, meningkat ke 1,5 meter pukul 07.00 WIB, lalu 1,9 meter pada siang hingga sore.
Menjelang malam, tinggi gelombang di Teluk Lampung bagian utara mencapai sekitar 2,2 meter. Kategorinya bergeser dari rendah menjadi sedang.
Sementara Teluk Lampung bagian selatan bergerak dari 0,8–1,1 meter pada dini hari, naik ke 1,3 meter siang hari, 1,4–1,5 meter sore hingga malam, dan sekitar 1,7 meter pukul 22.00 WIB.
Secara umum, BMKG memprakirakan angin di perairan Lampung bergerak dari Timur hingga Selatan dengan kecepatan 2–20 knot. Angin paling kuat terkonsentrasi di Perairan Barat Lampung dan Selat Sunda Selatan Lampung.
Data prakiraan ini berlaku untuk periode 25–28 September 2026. Warga yang beraktivitas di laut, terutama nelayan dan operator kapal kecil, disarankan memantau pembaruan informasi cuaca maritim sebelum melaut.