Badan Geologi Catat Daratan Baru 32,8 Hektare di Anak Krakatau, Warga Diimbau Jauhi Radius 1 Km

Penulis: Nopriansyah Putra  •  Minggu, 27 September 2026 | 13:16:01 WIB
Daratan baru seluas 32,8 hektare terbentuk dari material erupsi Gunung Anak Krakatau.

LAMPUNG — Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau membenarkan keberadaan perluasan lahan yang membentang antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Lahan itu muncul setelah gunung memuntahkan material vulkanik secara intensif sejak awal September 2026. Badan Geologi menghitung penambahan luasan mencapai 32,8 hektare.

Rita Susilawati mengumumkan temuan itu melalui akun media sosial resmi lembaga tersebut. Ia menyebut daratan baru ini murni berasal dari tumpukan material erupsi, bukan proses lain. Aliran lava dan material piroklastik terus keluar sejak 4 hingga 6 September 2026.

Material Panas Membeku Saat Menyentuh Air Laut

Tumpukan material panas mendingin lalu membentuk gundukan besar ketika bersentuhan dengan permukaan laut. Proses geologis itu menambah luas area vulkanik secara signifikan. Para ahli menyamakan luas gundukan vulkanik tersebut dengan kompleks Candi Prambanan yang memiliki luas 39,8 hektare.

Satelit pemantau Sentinel menangkap gambar visual aktivitas pembentukan pulau tersebut. Citra satelit merekam penambahan lahan pada tubuh gunung sebelah barat laut, barat, hingga barat daya. Satelit juga mendeteksi dua gumuk pulau berukuran lebih kecil pada sisi tenggara.

Ahli geologi memperkirakan magma encer mengalir keluar menembus permukaan bumi melalui jalur bukaan khusus. Jalur bukaan magma itu memanjang dari arah barat laut menuju tenggara. Magma yang mengalir perlahan mengeras saat menyentuh air laut yang dingin.

Erupsi Menerus 25 Jam Picu Dua Gumuk Pulau

Rita menyatakan kemunculan dua gumuk pulau itu diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam. "Kemunculannya 'kedua pulau' tersebut diduga berkaitan dengan erupsi menerus selama sekitar 25 jam," tegas Rita.

Erupsi berdurasi panjang memfasilitasi penumpukan material vulkanik dalam jumlah sangat masif. Fakta itu sekaligus mengonfirmasi tingginya aktivitas vulkanik di kawasan Selat Sunda. Perairan ini merupakan area lempeng tektonik yang terus bergerak aktif memicu aktivitas magma setiap saat.

Badan Geologi tetap merencanakan peninjauan langsung ke lokasi untuk mengkaji karakteristik material pembentuk daratan baru. "Tapi sekali lagi ini masih dugaan, yang perlu dikonfirmasi melalui pengecekan lapangan. Badan Geologi akan mencocokkan citra satelit sebelum dan sesudah erupsi serta melakukan verifikasi lapangan," tambah Rita.

Tim Peneliti Siapkan Alat Uji Komposisi Lava

Tim ahli sedang menyiapkan peralatan khusus untuk meneliti sampel batuan di lapangan. Peralatan itu nantinya berfungsi mengukur komposisi kimia lava yang telah membeku menjadi daratan. Langkah tersebut bertujuan mengumpulkan data empiris guna melengkapi hasil analisis satelit sebelumnya.

PVMBG secara resmi mempertahankan status Waspada bagi aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mereka juga menetapkan zona bahaya yang mencakup radius dua kilometer dari pusat letusan. Nelayan maupun wisatawan wajib mematuhi batas aman itu demi menghindari potensi bahaya susulan.

"Untuk keselamatan, masyarakat juga diimbau untuk tidak mendekat pada radius 1 km dari lokasi kedua gumuk pulau yang terlihat di dekat Gunung Anak Krakatau," imbau Rita Susilawati.

Peringatan dini itu berlaku hingga pihak berwenang mengeluarkan pemberitahuan tingkat keamanan yang baru. Warga pesisir Lampung dan Banten yang melintas Selat Sunda diminta memantau informasi resmi Badan Geologi secara berkala.

Reporter: Nopriansyah Putra
Sumber: nujatiagung.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top