LAMPUNG — Puskesmas Medan Labuhan menuntaskan rangkaian Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dengan menyasar siswa kelas 1 SD di SD 067265 Sei Mati. Vaksin measles-rubella ini melindungi anak dari campak yang bisa berujung pneumonia hingga radang otak, dan berikut hal-hal yang perlu ibu pahami sebelum anak disuntik.
Dokter Puskesmas Medan Labuhan, dr. Zelin Khaerini Lubis, menegaskan vaksin MR hanya diberikan kepada anak yang benar-benar sehat. Anak tidak boleh sedang demam, tidak memiliki riwayat alergi berat terhadap vaksin atau komponennya, dan usianya sesuai jadwal imunisasi.
Pemberian vaksin di sekolah menjadi cara paling efektif menjangkau anak usia masuk SD. Lewat kegiatan ini, anak yang belum lengkap imunisasinya bisa langsung dikejar tanpa harus antre lama di fasilitas kesehatan.
Campak termasuk penyakit yang sangat mudah menular. Satu anak yang terinfeksi bisa dengan cepat menularkan ke teman sekelasnya jika kekebalan tubuh anak lain rendah.
Zelin menjelaskan vaksin MR berfungsi membentuk kekebalan tubuh terhadap campak sekaligus rubella. Tanpa perlindungan ini, anak berisiko mengalami komplikasi serius seperti pneumonia, diare, infeksi telinga, hingga radang otak.
"Jangan takut memberikan imunisasi kepada anak. Vaksin campak tentunya sudah diuji secara aman oleh Kementerian Kesehatan dan telah digunakan secara luas untuk mencegah penyakit campak beserta komplikasi-komplikasinya," ujarnya kepada RRI.
Anak yang tidak mendapat vaksin berisiko mengalami campak dengan gejala khas berupa demam tinggi, ruam atau bercak di seluruh tubuh, batuk, pilek, dan mata merah. Diare dan dehidrasi juga sering menyertai.
Kalau tidak ditangani dengan cepat, campak bisa berkembang menjadi pneumonia hingga radang otak. Kondisi terburuknya bahkan dapat menyebabkan kecacatan hingga kematian.
Reaksi yang muncul setelah vaksinasi umumnya ringan. Anak mungkin merasakan nyeri, kemerahan, atau pembengkakan di lokasi suntikan.
Keluhan tersebut bisa diredakan dengan kompres. Sementara demam ringan dapat diatasi dengan obat penurun demam atau parasetamol sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ada kondisi tertentu yang membuat vaksinasi perlu ditunda. Anak yang sedang sakit, demam, atau memiliki riwayat alergi berat sebaiknya diperiksa dulu oleh dokter sebelum disuntik.
Zelin mengimbau orang tua mengikuti jadwal imunisasi yang diberikan tenaga kesehatan. Bila imunisasi anak belum lengkap, bawa ke Posyandu atau Puskesmas untuk menjalani imunisasi kejar atau catch-up.
"Apabila memiliki keraguan atau anak sedang sakit, bisa berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter atau petugas kesehatan di fasilitas kesehatan terdekat," katanya.
Melengkapi imunisasi anak bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif di sekolah. Ini investasi kesehatan jangka panjang yang melindungi anak dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah.