Pertamina Tahan Harga BBM Oktober, Pertalite Tetap Rp 10.000 per Liter

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 08:21:31 WIB
Pertamina menahan harga BBM subsidi dan non-subsidi per 1 Oktober 2026.

LAMPUNG — PT Pertamina (Persero) memutuskan tidak menaikkan harga BBM subsidi maupun non-subsidi per 1 Oktober 2026. Pertalite tetap dijual Rp 10.000 per liter dan Biosolar subsidi Rp 6.800 per liter di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya.

Paragraf pembuka: Keputusan ini berlaku setelah evaluasi bulanan harga BBM non-subsidi yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, serta kondisi ekonomi masyarakat. Harga BBM subsidi sendiri sudah ditetapkan pemerintah dan berlaku hingga akhir 2026.

Harga BBM Subsidi dan Non-Subsidi Tidak Berubah

Kitty Andhora, Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga (PPN), menyatakan harga BBM subsidi tetap mengacu pada kebijakan pemerintah. "Per 1 Oktober harga BBM baik subsidi dan non subsidi masih tetap sama dengan harga per bulan September," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (1/10).

Untuk BBM subsidi, pemerintah memutuskan harga tidak berubah sampai akhir tahun. "Untuk BBM Subsidi sesuai kebijakan pemerintah harga tetap sampai dengan akhir tahun 2026," kata Kitty.

Adapun BBM non-subsidi, Pertamina memilih menahan harga dengan mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk daya beli masyarakat. "Adapun untuk BBM Non Subsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," ujar Kitty.

Daftar Harga BBM Pertamina di Jakarta dan Sekitarnya

Berikut harga BBM Pertamina yang berlaku per 1 Oktober 2026 untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya:

  • Pertalite: Rp 10.000 per liter
  • Pertamax: Rp 15.950 per liter
  • Pertamax Green 95: Rp 19.150 per liter
  • Pertamax Turbo: Rp 19.600 per liter
  • Dexlite: Rp 23.700 per liter
  • Pertamina Dex: Rp 25.200 per liter
  • Biosolar subsidi: Rp 6.800 per liter

Harga BBM non-subsidi bisa berbeda antarwilayah karena perbedaan komponen biaya distribusi dan ketentuan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB). Konsumen di luar Jawa biasanya menghadapi harga lebih tinggi akibat biaya logistik.

Mengapa Harga Ditahan?

Pertamina mengevaluasi harga BBM non-subsidi secara berkala dengan mempertimbangkan sejumlah faktor. Dua yang utama adalah pergerakan harga minyak mentah dunia dan fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Ketika harga minyak mentah naik atau rupiah melemah, biaya impor bahan bakar ikut terdorong naik. Namun, Pertamina memilih tidak langsung menyesuaikan harga jual agar tidak membebani konsumen di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Kebijakan menahan harga ini juga sejalan dengan upaya pemerintah menjaga stabilitas harga barang dan jasa secara umum. BBM merupakan komponen biaya penting bagi transportasi, logistik, dan sektor usaha kecil.

Penutup: Dengan harga yang tidak berubah, konsumen bisa merencanakan pengeluaran bahan bakar tanpa khawatir lonjakan mendadak setidaknya hingga evaluasi berikutnya. Keputusan serupa juga dinantikan pelaku usaha angkutan dan logistik yang selama ini bergantung pada stabilitas harga BBM untuk menjaga biaya operasional.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top