Wagub Lampung Jihan Nurlela Dorong Deteksi Dini Kanker Lewat Posyandu Dewasa dan Penguatan USG Puskesmas

Penulis: Burhanuddin Yahya  •  Jumat, 02 Oktober 2026 | 05:46:01 WIB
Wagub Lampung Jihan Nurlela menyampaikan apresiasi kepada PERABOI dalam bakti sosial deteksi dini kanker payudara di Bandarlampung.

BANDARLAMPUNG — Bakti sosial itu diisi edukasi dan pemeriksaan deteksi dini kanker payudara bagi masyarakat. Wagub Jihan menyampaikan apresiasi kepada PERABOI yang memilih Lampung sebagai tuan rumah PIT ke-29 sekaligus menghadirkan kegiatan yang memberi manfaat langsung kepada warga.

"Atas nama Pemerintah Provinsi Lampung tentu saja saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi yang luar biasa kepada Perhimpunan Dokter Bedah Onkologi Indonesia," ujar Jihan.

Penanganan Kanker Butuh Kolaborasi, Bukan Hanya Tugas Dokter Spesialis

Menurut Jihan, penanganan kanker membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dan tidak hanya menjadi tanggung jawab dokter spesialis bedah onkologi. Upaya tersebut harus dimulai dari hulu melalui pencegahan dan deteksi dini.

"Kita harus mengurainya sejak dari hulunya. Dari hulunya itu adalah deteksi dini," katanya.

Jihan menyoroti pentingnya penguatan layanan kesehatan primer melalui Posyandu Dewasa dalam skema Integrasi Layanan Primer (ILP). Layanan itu perlu terus disosialisasikan dan dioptimalkan agar masyarakat mendapat akses pemeriksaan kesehatan lebih dekat.

Ia mengakui implementasi ILP di lapangan masih membutuhkan penguatan, baik dari sisi sosialisasi maupun pelaksanaan pelayanan. Pemprov Lampung pun mendorong optimalisasi layanan primer sebagai bagian upaya pencegahan berbagai penyakit, termasuk kanker.

USG di Puskesmas Harus Diikuti Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan

Jihan menekankan pentingnya penguatan sarana dan sumber daya manusia untuk mendukung deteksi dini di puskesmas. Keberadaan alat ultrasonografi (USG), menurutnya, perlu diikuti dengan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan agar dapat dimanfaatkan secara optimal.

Pemprov Lampung juga terus berupaya memperkuat layanan kanker di RS Abdul Moeloek. Layanan kemoterapi telah tersedia, sementara pengembangan layanan radioterapi dan pemanfaatan teknologi nuklir terus dipersiapkan.

"Kita hampir lengkap sebetulnya pelayanan di Rumah Sakit Abdul Moeloek untuk pelayanan kanker. Kemoterapinya tentunya sudah ada dan nanti kita segera menyusul radiasi," katanya.

Mengapa Kanker Payudara Jadi Tema Bakti Sosial

Ketua Panitia PIT PERABOI ke-29, dr. Bintang Abadi Siregar, Sp.B (K) Onk, mengatakan pemilihan kanker payudara sebagai tema bakti sosial didasarkan pada tingginya angka kejadian kanker payudara di Indonesia maupun dunia.

"Kenapa diambil tema kanker payudara? Karena sampai ini, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia, kanker paling tinggi insidennya adalah kanker payudara," ujar dr. Bintang.

Ia menjelaskan tema besar PIT PERABOI ke-29, yaitu "Replicating the Escalation Strategies in Surgical Cancer and Novel Treatment", tidak hanya berkaitan dengan perkembangan teknologi dan penanganan kanker di ruang operasi. Semangat itu juga berkaitan dengan pentingnya menemukan penyakit sedini mungkin agar pasien memperoleh penanganan pada waktu yang tepat.

Dalam penanganan kanker payudara, semakin dini suatu kelainan ditemukan dan semakin cepat dilakukan evaluasi, semakin banyak pilihan penatalaksanaan yang dapat dipertimbangkan.

SADARI, SADANIS, hingga SADAMI: Deteksi Dini Bisa Libatkan Pasangan

dr. Bintang mengingatkan masyarakat untuk mengenali kondisi payudara melalui pemeriksaan mandiri atau SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) serta pemeriksaan klinis atau SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis). Ia bahkan memperkenalkan pentingnya keterlibatan pasangan melalui pemeriksaan yang ia sebut SADAMI (Periksa Payudara oleh Suami).

"Deteksi dini ini juga merupakan suatu kepedulian terhadap diri sendiri, terhadap keluarga, dan terhadap orang-orang yang kita cintai," katanya.

Menurut dr. Bintang, masih banyak masyarakat yang datang ke fasilitas kesehatan ketika kondisi kanker sudah memasuki tahap lanjut. Salah satu penyebabnya adalah anggapan bahwa tidak adanya keluhan berarti tidak ada penyakit.

Kanker pada tahap awal kerap tidak menimbulkan gejala yang dirasakan pasien. Kondisi itu dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan hingga penyakit berkembang lebih jauh.

"Jangan menunggu sampai timbul keluhan berat untuk memeriksakan diri," tegasnya.

Ia juga mendorong penguatan layanan kesehatan primer melalui Posyandu Dewasa. Menurutnya, layanan tersebut dapat menjadi sarana untuk melakukan deteksi dini secara lebih aktif sehingga masyarakat tidak hanya datang ke fasilitas kesehatan ketika sudah mengalami keluhan.

Reporter: Burhanuddin Yahya
Sumber: gemamedia.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top