LAMPUNG — Telkomsel kembali menggelar program inkubasi NextDev untuk tahun ke-12 dengan tema AI-Powered Innovations. Program ini menyasar penguatan kapasitas founder di tengah penurunan pendanaan startup digital Indonesia yang mencapai 94% sepanjang 2021-2025. Adopsi AI dalam kurikulum jadi kunci menghadapi tech winter yang masih berlanjut.
Manager CSR Education and Public Community Development Telkomsel, Gumilar Henda Nugraha Ali, menyatakan NextDev tahun ini diarahkan untuk membentuk market-ready founders. Para founder tidak hanya dibimbing mengejar pendanaan, tetapi juga membangun fundamental bisnis yang tahan terhadap tekanan pasar.
Data yang dirujuk Telkomsel menunjukkan pendanaan bisnis digital di Indonesia sepanjang 2021-2025 turun sekitar 94%. Penurunan tajam ini membuat kemampuan bertahan startup tidak bisa lagi bergantung pada suntikan modal semata.
Gumilar menilai founder perlu membangun sumber pendapatan baru agar bisnis tetap berjalan. NextDev merancang rangkaian kegiatan yang mendorong para technopreneur menciptakan stream revenue alternatif di tengah kondisi pasar yang menantang.
"Bagaimana kemudian teman-teman founders ini kita lakukan penguatan-penguatan melalui rangkaian kegiatan yang ada di NextDev itu sendiri, sehingga dengan angka decline ini, tetap mereka bisa sustain dengan tetap melahirkan stream-stream revenue yang baru," ujar Gumilar saat ditemui di Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Selain tekanan pendanaan, Telkomsel mencatat pergeseran pola pembangunan startup digital. Data yang dirujuk perusahaan menunjukkan pertumbuhan solo founder di Indonesia berada di kisaran 24%.
Jika sebelumnya pengembangan produk digital melibatkan beberapa peran seperti hacker, hustler, dan hipster, kini seorang founder dituntut menguasai kemampuan yang lebih luas. NextDev menyesuaikan kurikulum untuk menjawab kebutuhan tersebut.
"Kenapa NextDev hadir di tahun ke-12 ini, untuk memperkuat founders itu sendiri, sehingga memang bisa memberikan impact yang lebih, kemudian dalam segi pengembangan bisnis dan lain sebagainya," kata Gumilar.
Tema AI-Powered Innovations dipilih karena adopsi dan pendanaan AI di Indonesia masih tertinggal dibanding kawasan Asia Tenggara. Gumilar menyebut Indonesia baru mendapatkan sekitar 4% pendanaan AI di Asia Tenggara.
AI dimasukkan ke dalam kurikulum NextDev untuk membantu founder mengeksplorasi teknologi tersebut dalam pengembangan bisnis digital. Telkomsel berharap technopreneur tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga memiliki fundamental bisnis dan sumber pendapatan yang kuat untuk melewati kondisi pasar penuh tekanan.
"Bagaimana digital business yang dibuat oleh para founders ini bisa kemudian kita lakukan penguatan-penguatan melalui kurikulum yang ada dengan tematik AI itu sendiri," ucap Gumilar.
Langkah Telkomsel melanjutkan NextDev di tahun ke-12 menjadi sinyal bahwa program inkubasi korporasi masih memainkan peran penting ketika modal ventura mengetat. Bagi pelaku startup dan investor, fokus pada ketahanan founder dan adopsi AI bisa menjadi peta jalan menghadapi siklus pendanaan yang belum pulih.