Pencarian

Rifyan Ridwan Saleh Deklarasi Maju Caketum PB HMI di Peluncuran Buku, Kongres XXXIII Digelar di Lampung

Kamis, 01 Oktober 2026 • 05:46:31 WIB
Rifyan Ridwan Saleh Deklarasi Maju Caketum PB HMI di Peluncuran Buku, Kongres XXXIII Digelar di Lampung
Rifyan Ridwan Saleh mendeklarasikan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI dalam peluncuran bukunya di Jakarta.

JAKARTA — Rifyan menegaskan bahwa keputusannya maju sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI bukan semata untuk mengejar jabatan. Ia ingin membawa gagasan yang dituangkan dalam bukunya ke ruang pengabdian nyata di HMI.

"Saya tidak ingin gagasan-gagasan dalam buku ini berhenti menjadi tulisan, saya memilih untuk memperjuangkannya. Saya menyatakan diri sebagai bakal calon Ketua Umum PB HMI Periode 2027–2029 karena saya ingin menghibahkan diri, pikiran, pengalaman, waktu, dan seluruh kemampuan yang saya miliki untuk umat dan bangsa melalui HMI," ujar Rifyan.

Menurut Rifyan, jabatan dalam kepemimpinan HMI merupakan instrumen untuk menerjemahkan gagasan menjadi kerja dan pengabdian. Ia menilai yang lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia berilmu, berintegritas, dan bermanfaat bagi umat dan bangsa.

Jabatan sebagai Alat Menghidupkan Gagasan

"Bagi saya, menjadi Ketua Umum bukanlah tujuan akhir, jabatan hanyalah alat untuk menghidupkan gagasan. Yang jauh lebih penting adalah apakah HMI mampu menjadi ruang lahirnya manusia-manusia yang berilmu, berintegritas, berani mengambil tanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi umat dan bangsa," katanya.

Peluncuran buku tersebut berlangsung menjelang Kongres HMI XXXIII yang akan digelar di Lampung pada November 2026. Momentum itu menjadi ruang bagi Rifyan untuk memaparkan gagasan mengenai arah masa depan HMI sekaligus menyatakan kesiapannya masuk dalam kontestasi kepemimpinan PB HMI.

Apresiasi dari Staf Khusus Menteri P2MI

Staf Khusus Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Ilham Akbar Mustafa, mengapresiasi langkah Rifyan menerbitkan buku di tengah momentum menuju Kongres HMI. Menurutnya, terlepas dari posisi Rifyan sebagai kandidat, buku tersebut dapat mendorong kontestasi kepemimpinan HMI tidak berhenti pada mobilisasi politik.

"Upaya dia untuk menghadirkan karya lewat buku adalah upaya serius untuk menggeser percakapan Kongres HMI. Dari sekadar perbincangan mobilisasi politik menuju percakapan substantif terkait pikiran dan gagasan," ujar Ilham.

Ilham menilai tradisi intelektual perlu terus dirawat di lingkungan HMI. Salah satunya dengan mendorong para kandidat menghadirkan karya dan pemikiran yang dapat diuji oleh publik organisasi.

"Kita tidak bisa menghukumi masa depan yang nisbi, tapi kita bisa menilai seseorang dari rekam jejak, rekam karya, dan rekam pikirannya di masa lalu. Itu formula meritokratik untuk memilih pemimpin," katanya.

Ia berharap langkah Rifyan dapat diikuti kandidat lainnya sehingga Kongres HMI memiliki ruang pertukaran gagasan yang lebih kuat. "Apa yang Rifyan mulai, dan saya berharap juga diikuti oleh kandidat-kandidat yang lain, adalah upaya untuk menjaga nyala lilin itu tetap menyala," ujar Ilham.

Buku sebagai Alat Uji Konsistensi Kandidat

Menurut Ilham, buku yang diluncurkan Rifyan akan menjadi bagian dari rekam gagasan yang dapat diuji melalui konsistensi antara apa yang ditulis dan apa yang dilakukan. "Kelak, buku ini akan menjadi alat uji bagi Rifyan di masa depan; seberapa konsisten dan komit dia pada apa yang ditulisnya dan pada apa yang dilakukannya," katanya.

Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Esa Unggul, Prof. Dr. Juanda, S.H., M.H., menilai gagasan yang dituangkan Rifyan dalam "HMI in The Future" relevan dengan perkembangan zaman. Namun, pembicaraan mengenai masa depan tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan kondisi hari ini.

"Buku ini sangat relevan dengan zaman, tetapi kita juga perlu belajar dari masa lalu dan mengamati masa kini, dari sana kita berangkat untuk merebut masa depan yang lebih baik," ujar Juanda.

Ia mengatakan perspektif tersebut penting bagi kader HMI yang sedang menjalani proses pembelajaran dan pengembangan diri. "Khususnya bagi para kader HMI yang sedang berproses, jangan hanya melihat apa yang terjadi hari ini. Pelajari masa lalu, amati masa kini, kemudian siapkan diri untuk masa depan. Karena masa depan itu harus dipersiapkan dan diperjuangkan," ucapnya.

Juanda juga menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan peluncuran buku tersebut. Menurutnya, Rifyan perlu didukung dalam upaya menghadirkan gagasan ke ruang publik organisasi.

Follow www.lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks