Pencarian

Wagub Lampung Dorong Modernisasi Pertanian, 35.100 Hektare PM-AAS Disiapkan di 2026

Kamis, 01 Oktober 2026 • 08:17:01 WIB
Wagub Lampung Dorong Modernisasi Pertanian, 35.100 Hektare PM-AAS Disiapkan di 2026
Wagub Lampung Jihan Nurlela menghadiri Gerakan Tanam Padi PM-AAS di Kelurahan Yosomulyo, Metro Pusat.

METRO — Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa modernisasi pertanian menjadi kunci memajukan sektor yang menopang hampir 28 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Total PDRB Lampung sendiri menembus lebih dari Rp500 triliun, dengan serapan tenaga kerja mencapai 44 persen populasi.

Pernyataan itu disampaikan Jihan saat mengikuti Gerakan Tanam Padi Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) serentak seluruh Indonesia di Kelurahan Yosomulyo, Kecamatan Metro Pusat, Rabu (30/9/2026).

“44 persen masyarakat kita yang bekerja di bidang pertanian, perikanan, dan hortikultura. Maka kalau ini jadi fokus perhatian kita di Provinsi Lampung, fokus kesejahteraannya, fokus produktivitas pertaniannya, maka insya Allah Lampung akan semakin maju dan juga semakin sejahtera pula,” ujar Wagub Jihan.

Efisiensi Biaya Jadi Inti PM-AAS, Bukan Sekadar Mekanisasi

Jihan menekankan adopsi PM-AAS tidak boleh dimaknai sebatas pemanfaatan alat mekanisasi baru. Esensi utamanya adalah menciptakan efisiensi beban produksi sekaligus memperbesar keuntungan petani.

“Pentingnya Pertanian Modern Advanced Agriculture System atau PM-AAS ini menjadi salah satu instrumen modernisasi pertanian yang tidak boleh dimaknai sekadar menghadirkan mesin atau teknologi baru ke sawah, tetapi lebih dari itu bagaimana efisiensi cost pertanian, produktivitasnya meningkat, dan tentu ada margin yang lebih besar lagi untuk dapat diuntungkan oleh petani para petani kita,” jelasnya.

Bukti percontohan sudah terlihat di Kabupaten Lampung Tengah. Lahan seluas 100 hektare yang dikelola 77 petani mencatatkan hasil panen 11,2 ton per hektare.

Lampung Surplus Beras, Produksi Tembus 3,2 Juta Ton

Secara agregat pada tahun sebelumnya, Lampung memproduksi 3,2 juta ton padi. Capaian itu menempatkan provinsi ini dalam posisi surplus beras secara nasional.

Untuk menjaga stabilitas ekosistem pangan dari hulu ke hilir, Pemprov Lampung menyalurkan sejumlah intervensi. Mulai dari pemberian pupuk hayati cair untuk menjaga kesuburan tanah, penyediaan mesin pengering gabah (bed dryer), hingga penguatan peran BUMDes dan koperasi desa untuk memangkas rantai tata niaga panen.

“Dengan ekosistem seperti ini tentu saja petani memiliki lebih banyak pilihan ke depannya dalam mengelola hasil pertanian. Saya berharap bantuan dan kegiatan hari ini menjadi bagian dari proses peningkatan produktivitas kesejahteraan petani, khususnya di Kota Metro dan seluruh Provinsi Lampung,” pungkas Wagub Jihan.

Produktivitas Nasional Stagnan di 5 Ton, PM-AAS Disebut Capai 11 Ton

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Hubungan Kelembagaan, Regulasi, dan Reformasi Birokrasi Tin Latifah menyoroti produktivitas padi nasional yang stagnan sejak 2010. Angkanya bertahan di kisaran 5 hingga 5,3 ton per hektare.

“Produktivitas padi kita dari tahun 2010 itu stagnan di angka 5 ya, 5 ton, 5,1, 5,2, terakhir 5,3. Kita harus punya lompatan teknologi, kita harus berpikir di luar yang kebiasaannya. Nah, ini PM-AAS sudah dicoba di beberapa provinsi, memang rata-ratanya semua di atas 10 ton. Kemarin di Lampung Tengah ada yang 12 ton, ada yang 11 ton, ada yang 10 ton ya, rata-ratanya 11 koma sekian. Jadi ini bukan angan-angan, ini sudah terealisasi,” jelasnya.

Tin Latifah juga memaparkan capaian swasembada pangan yang dipercepat dari target empat tahun menjadi satu tahun. Menurutnya, capaian itu tidak lepas dari kolaborasi petani, penyuluh, dan pemerintah daerah.

“Bapak Presiden kan maunya kita swasembada pangan. Waktu itu swasembada pangannya 4 tahun, ternyata dipersingkat menjadi 3 tahun, terus dipersingkat lagi menjadi 1 tahun. Alhamdulillah itu tercapai,” ujar Tin Latifah.

Target 2027: PM-AAS Nasional Diperluas ke 3 Juta Hektare

Food and Agriculture Organization (FAO) memprediksi produksi beras Indonesia pada 2026 berpotensi mencapai 38,6 juta ton dan masuk jajaran empat besar dunia. Implementasi PM-AAS seluas 1 juta hektare secara nasional di tahun 2026 dan 3 juta hektare pada 2027 diharapkan mendongkrak rata-rata produktivitas nasional.

Khusus Lampung, program PM-AAS dialokasikan seluas 35.100 hektare. Target awal pertanaman bulan September sebesar 2.500 hektare terus dikejar hingga akhir tahun.

Tin Latifah menyebut cadangan beras nasional saat ini dalam kondisi kokoh. “Selama 10 bulan ke depan insya Allah stok beras masih aman. Ketika stok kita aman, Indonesia tidak melakukan impor beras dan dampaknya harga beras nasional langsung turun. Artinya apa, kita tuh pasar terbesar. Makanya Pak Presiden melalui Bapak Menteri, kedaulatan pangan, ketersediaan pangan harus bisa kita penuhi secara mandiri,” paparnya.

Percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) pada September disebut menjadi momentum krusial penentu keberlanjutan produksi hingga akhir tahun.

Follow www.lampungonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: newslampungterkini.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks