LAMPUNG — Sebanyak 230.000 orang tua di Filipina menolak mengimunisasi anak mereka dari total lebih dari tujuh juta anak yang divaksinasi tahun ini. Angka itu muncul setelah gelombang disinformasi media sosial memelintir foto seorang balita yang sempat sakit usai menerima vaksin campak dan rubella. Berikut kronologi lengkap dan pelajaran yang bisa diambil ibu di Indonesia.
Departemen Kesehatan Filipina menuding influencer media sosial sebagai penggerak utama ketakutan terhadap vaksin. Dari 230.000 penolak imunisasi anak, 66 persen beralasan takut akan efek samping.
Kasus ini bermula dari Jenette Torres Odena, ibu di Filipina, yang putranya berusia tiga tahun jatuh sakit beberapa hari setelah menerima suntikan vaksin campak dan rubella. Dokter tidak menemukan hubungan antara kondisi sang anak dan vaksinasi, dan balita itu pulih sepenuhnya.
Namun foto anak tersebut beredar luas di Facebook dengan narasi palsu bahwa vaksinasi telah membunuhnya.
Foto Balita Dipelintir Jadi Video Anti-Vaksin
Kreator konten Facebook bernama Maharani Sona Shiloh memasukkan foto balita itu ke dalam video yang menyandingkannya dengan foto Presiden AS Donald Trump dan tulisan "Everyday slaughter". Video itu ditonton ratusan ribu kali.
Shiloh juga menyebarkan klaim tak berdasar bahwa vaksin mengandung plasenta manusia dan formalin, serta menuduh WHO berusaha mengurangi populasi bumi. Saat dikonfirmasi, ia menolak tuduhan disinformasi dan mengklaim diri sebagai aktivis hak asasi manusia.
"Orang-orang menyebut kami gila. Mengapa manusia tidak memiliki hak untuk mempertanyakan hal-hal ini?" ujar Shiloh.
Dampaknya ke Orang Tua di Filipina
Seorang ibu yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku menunda vaksinasi anak-anaknya setelah menonton video tersebut. Ia merasa video itu memberi pengetahuan tambahan dan membuatnya lebih hati-hati.
"Saya menonton video Ms. Maharani karena saya mencari informasi lebih lanjut. Video itu memberikan pengetahuan tambahan, sehingga membantu saya untuk berpikir lebih hati-hati," tuturnya.
Odena sendiri mengaku tak berdaya menghadapi penyebaran foto anaknya. "Saya merasa ingin menangis. Saya terus berdoa agar putra saya sembuh, dan tiba-tiba mereka membunuhnya di Facebook," katanya.
Bukan Sekadar Kurang Pengetahuan Ilmiah
Peneliti komunikasi kesehatan dari Deakin University Australia, Daniel Fritz Silvallana, menilai penolakan vaksin di Filipina berkaitan erat dengan soal kepercayaan dan sejarah kesehatan publik.
"Keraguan terhadap vaksin tidak boleh disikapi secara sederhana sebagai bentuk kurangnya pengetahuan ilmiah di kalangan masyarakat," ujar Silvallana.
"Dalam konteks Filipina, hal ini juga terikat dengan persoalan kepercayaan, politik, serta pengalaman masa lalu masyarakat terkait vaksinasi dan lembaga kesehatan publik," tambahnya.
Tenaga Kesehatan Jadi Sasaran Intimidasi
Pakar vaksin dari University of Auckland, Helen Petousis-Harris, menilai video anti-vaksin sengaja menunggangi rasa takut ketimbang menyajikan bukti ilmiah. Bahan vaksin yang diakui, katanya, berubah menjadi kontaminan misterius, sementara kejadian ikutan yang langka dipelintir menjadi kerusakan otak hingga kematian.
Kondisi ini menempatkan tenaga kesehatan di garis depan pada posisi sulit. Wenna Mae Belen, petugas kesehatan pedesaan di provinsi Sorsogon, mengaku menghadapi intimidasi orang tua murid.
"Mereka mengatakan kepada saya jika sesuatu yang buruk terjadi, mereka akan memaksa saya menyedot kembali vaksin tersebut keluar dari tubuh anak-anak mereka," ujar Belen.
Yang Perlu Ibu Lakukan Sebelum Percaya Konten Vaksin
Sebelum mempercayai video atau unggahan soal vaksin, cek dulu sumbernya. Pastikan informasi datang dari tenaga kesehatan resmi, Kementerian Kesehatan, atau IDAI, bukan dari akun yang tidak jelas kredensialnya.
Diskusikan kekhawatiran soal efek samping langsung dengan dokter anak. Tanyakan jadwal, jenis vaksin, dan kemungkinan reaksi yang wajar muncul, supaya ibu punya pegangan fakta saat membaca konten di media sosial.
Ingat bahwa kejadian ikutan pasca-imunisasi yang serius tergolong langka. Manfaat vaksin dalam mencegah penyakit seperti campak dan rubella jauh lebih besar dibanding risikonya, dan perlindungan ini juga membantu anak-anak lain di sekitar.