Harga Perak Antam Naik Rp 600 Jadi Rp 39.200, Berlawanan Arah Dunia

Penulis: Nasrul Effendi  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 10:51:01 WIB
Harga perak batangan Antam naik Rp 600 menjadi Rp 39.200 per gram pada perdagangan Rabu (21/10/2026).

LAMPUNG — PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menaikkan harga perak batangan Rp 600 menjadi Rp 39.200 per gram pada perdagangan Rabu (21/10/2026), berbanding terbalik dengan harga perak dunia yang turun 0,68 persen ke US$ 57,58 per ons. Kenaikan harga logam mulia Antam terjadi di tengah tekanan inflasi global yang membuat pasar logam bergerak tidak seragam.

Antam menetapkan harga perak lebih tinggi dibanding perdagangan sebelumnya yang berada di Rp 38.600 per gram. Penetapan harga mengacu pada laman resmi logammulia.com milik perusahaan pelat merah tersebut. Perak Antam tersedia dalam beberapa ukuran, mulai dari batangan 250 gram hingga 500 gram, serta perak butiran dengan kadar kemurnian 99,95 persen.

Rincian Harga Perak Antam

Perak batangan 250 gram dipatok Rp 10.325.000, sementara ukuran 500 gram dibanderol Rp 19.725.000. Harga per gram yang lebih tinggi untuk ukuran besar mencerminkan penyesuaian terhadap harga spot dunia ditambah biaya cetak dan margin perusahaan.

Antam merupakan anggota holding BUMN pertambangan MIND ID yang selama ini dikenal lewat produk emas batangan. Lini perak menjadi pelengkap portofolio logam mulia perusahaan, menyasar investor ritel yang mencari alternatif lindung nilai selain emas.

Tekanan Inflasi dan Suku Bunga Global

Harga perak dunia melemah mendekati US$ 57,5 per ons pada Rabu. Penurunan terjadi seiring kenaikan harga minyak yang memperparah kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Harga minyak melanjutkan tren naik setelah seorang diplomat menepis laporan soal kemungkinan kesepakatan mengakhiri konflik AS-Iran dalam waktu dekat. Ketegangan di Timur Tengah dan Eropa Timur, ditambah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, memperbesar risiko gangguan pasokan.

The Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pekan depan. Namun pasar melihat peluang 92 persen kenaikan suku bunga pada Desember, menurut perangkat FedWatch dari CME. Bank of Japan dan Bank Sentral Eropa juga diprediksi menahan suku bunga kebijakan mereka.

Logam memang lazim dianggap instrumen lindung nilai terhadap inflasi. Tetapi suku bunga tinggi cenderung melemahkan daya tariknya dibandingkan aset yang memberi imbal hasil bunga, seperti obligasi pemerintah.

Bayangi Harga Emas Dunia

Harga emas di pasar spot turun 0,3 persen menjadi US$ 4.125,90 per ons pada Selasa (20/10/2026) waktu setempat. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,4 persen ke US$ 4.142,60 per ons.

"Inflasi dan suku bunga the Fed merupakan faktor utama yang menjadi tantangan bagi emas saat ini. Untuk sementara waktu, obligasi pemerintah AS tampak lebih menarik dibandingkan emas sebagai aset aman," ujar Senior Market Strategis StoneX, Bob Haberkorn.

Ia menilai level US$ 4.000 menjadi angka penting untuk melihat apakah harga emas mampu bertahan di atasnya. Menurut Haberkorn, arah harga akan banyak bergantung pada sinyal yang disampaikan The Fed.

Harga emas kini masih turun sekitar 26 persen dari rekor tertingginya US$ 5.594,82 pada Januari, dan sekitar 22 persen dari level saat dimulainya perang di Iran. The Fed sendiri menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, kenaikan pertama tahun ini.

Yang Perlu Dicermati Investor

Pelaku pasar menantikan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS pekan depan, indikator inflasi acuan The Fed. Angka itu akan memberi petunjuk apakah tekanan inflasi masih berlanjut dan bagaimana pengaruhnya terhadap prospek suku bunga.

Di Jepang, Gubernur bank sentral Kazuo Ueda menyatakan inflasi inti sudah cukup dekat dengan target 2 persen. Pernyataan itu mengisyaratkan ruang kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Di pasar logam lain, perak spot justru naik 1,4 persen menjadi US$ 57,86 per ons, platinum menguat 1 persen ke US$ 1.656,85 per ons, sedangkan paladium turun 1,3 persen ke US$ 1.105,50 per ons. Perbedaan arah antara harga Antam dan pasar spot menunjukkan harga ritel domestik tidak selalu bergerak seiring pergerakan harian global.

Bagi investor ritel, selisih Rp 600 per gram pada perdagangan kali ini terbilang tipis. Namun arah suku bunga The Fed pada Desember akan menjadi penentu apakah tren penguatan perak Antam bertahan atau berbalik mengikuti tekanan global.

Reporter: Nasrul Effendi
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top