Perajin Tempe di Pesawaran Pertahankan Kebersihan demi Jaga Kualitas, Produksi Capai 150 Kilogram Kedelai per Hari

Penulis: Hendra Mukhtar  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:07:31 WIB
Suharti, perajin tempe di Waylayap Satu, Gedongtataaan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, mengolah 100 hingga 150 kilogram kedelai per hari untuk memenuhi permintaan pelanggan.

PESAWARAN — Kebersihan menjadi fondasi utama bagi Suharti, perajin tempe di Waylayap Satu, Gedongtataaan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan. Usaha yang telah berjalan lebih dari satu dekade ini menempatkan higienitas sebagai prioritas di tengah tingginya volume produksi harian.

Setiap harinya, Suharti mengolah sekitar 100 hingga 150 kilogram kedelai menjadi tempe siap jual. Jumlah tersebut fluktuatif dan selalu disesuaikan dengan banyaknya permintaan yang masuk, baik dari warga sekitar maupun pengecer.

Kebersihan Kunci Agar Jamur Tumbuh Optimal

Suharti menegaskan bahwa menjaga kebersihan bukan sekadar soal penampilan, melainkan faktor penentu keberhasilan fermentasi. Menurutnya, proses yang bersih akan mencegah kontaminasi bakteri yang dapat merusak tekstur dan rasa tempe.

"Yang paling penting itu kebersihannya, supaya tidak ada bakteri yang mengganggu dan jamurnya tetap bagus," ujar Suharti saat ditemui di tempat usahanya, akhir pekan lalu.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kualitas fermentasi jamur pada tempe sangat bergantung pada sterilitas bahan baku dan peralatan produksi. Jika kebersihan terjaga, pertumbuhan jamur akan merata dan menghasilkan tempe dengan cita rasa yang konsisten.

Strategi Pemasaran: Titip Warung hingga Pasok MBG

Untuk menjangkau konsumen yang lebih luas, Suharti tidak hanya mengandalkan penjualan langsung di lokasi usaha. Sebagian produknya dititipkan ke warung dan penjual makanan lain, sementara sebagian lagi dipasarkan dengan cara berkeliling ke sejumlah wilayah sekitar.

Permintaan terhadap tempe buatannya pun beragam. Selain melayani warga setempat, Suharti juga menerima pesanan dalam jumlah tertentu untuk kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Adanya pelanggan dari berbagai kalangan ini membuat pemasaran produk tetap berjalan stabil.

Dari segi harga, tempe produksinya dibanderol sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per potong. Rentang harga tersebut disesuaikan dengan ukuran dan jenis tempe yang dijual, sehingga tetap terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Pengalaman 13 Tahun Jaga Kepercayaan Konsumen

Perjalanan usaha yang sudah berlangsung 13 tahun ini membuktikan bahwa konsistensi menjaga kualitas adalah kunci bertahan di tengah persaingan. Suharti terus berupaya memenuhi permintaan pelanggan dengan mengedepankan kebersihan di setiap tahap produksi.

Upaya menjaga higienitas, memenuhi permintaan yang bervariasi, serta menerapkan strategi pemasaran ganda menjadi bagian dari caranya mempertahankan kepercayaan konsumen. Ke depan, ia berharap usaha tempe ini dapat terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas.

Reporter: Hendra Mukhtar
Sumber: lampung.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top