LAMPUNG — Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung, Rudi Harianto, mengungkapkan ratusan titik panas itu terdeteksi dari hasil pemantauan empat satelit, yakni Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20. Dari pembaruan data terakhir, 100 titik berada pada tingkat kepercayaan sedang, 11 titik tingkat kepercayaan rendah, dan 4 titik sisanya berstatus tinggi.
"Sebagian besar titik panas berada pada tingkat kepercayaan sedang sebanyak 100 titik, tingkat kepercayaan rendah 11 titik, dan tingkat kepercayaan tinggi sebanyak 4 titik," ujar Rudi, Selasa (11/8/2026).
Distribusi titik panas tidak merata. Way Kanan menjadi daerah dengan temuan terbanyak, terkonsentrasi di Kecamatan Blambangan Umpu dengan 18 titik. Di Mesuji, titik panas paling banyak berada di Kecamatan Mesuji Timur dengan 16 titik, menyusul Tanjung Raya dengan 9 titik.
Kabupaten lain yang juga mencatatkan titik panas antara lain Lampung Timur (8 titik), Lampung Selatan (5 titik), Lampung Tengah (5 titik), serta Pesisir Barat (5 titik). Adapun Tanggamus dan Tulang Bawang masing-masing tercatat satu titik.
Kondisi itu kian memprihatinkan lantaran prakiraan cuaca di sebagian besar wilayah Lampung, terutama daerah dengan konsentrasi hotspot tinggi, didominasi cerah hingga berawan. Berdasarkan prakiraan BMKG per 11 Agustus 2026, suhu udara berkisar 22 hingga 34 derajat Celsius dengan kelembapan 50 hingga 95 persen. Angin bertiup dari arah Timur hingga Tenggara dengan kecepatan 5 sampai 35 km/jam.
"Secara umum kondisi cuaca sepanjang hari ini diprakirakan cerah hingga cerah berawan. Hujan dengan intensitas ringan hanya berpotensi terjadi di beberapa wilayah seperti Tanggamus dan Tulang Bawang pada pagi hari, serta Bandar Lampung, Lampung Selatan, Pesawaran, Pesisir Barat, dan Lampung Barat pada malam hingga dini hari," kata Rudi.
Catatan pentingnya, wilayah penumpukan titik panas seperti Way Kanan, Mesuji, dan Lampung Utara justru tidak termasuk area yang berpotensi hujan pada hari ini. Kondisi cuaca kering tanpa hujan itu membuat api yang muncul di lahan gambut maupun semak berisiko cepat merambat dan sulit dipadamkan.
Menyikapi hal itu, BMKG Lampung mengimbau masyarakat dan pihak terkait untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan. Imbauan ini ditujukan untuk mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa memicu kabut asap serta mengganggu kesehatan warga.