LAMPUNG — Ir. Almuhery Ali Paksi bersama Jaring Kelola Ekosistem Lampung (JKEL) menyerukan aksi serentak perbaikan lingkungan yang mencakup kawasan hulu tangkapan air, sempadan sungai, hingga limpasan daerah tangkapan air. Gerakan yang disebut “Tobat Ekologis Indonesia” ini juga menyasar pemulihan wilayah mangrove di Bumi Ruwa Jurai.
Seruan ini dilontarkan di tengah keprihatinan atas kondisi alam Lampung yang dinilai semakin terdegradasi. Almuhery mengkritik keras berbagai kegiatan konservasi yang selama ini hanya berhenti di atas panggung seremonial tanpa aksi nyata di lapangan.
Almuhery meminta para pemimpin daerah untuk tidak menjadikan isu lingkungan sekadar bahan pidato. Menurutnya, komitmen konservasi harus terukur dan terlihat jelas dalam dokumen perencanaan keuangan daerah.
“Gerakan konservasi jangan hanya jadi buah bibir gubernur, wali kota, bupati, dan politisi semata. Bila mengikrarkan wilayahnya sebagai provinsi, kota, dan kabupaten konservasi, buktikan dengan mengalokasikan anggaran pada program konservasi nyata,” ujarnya.
Pernyataan ini menjadi sindiran keras bagi daerah-daerah di Lampung yang kerap mencanangkan diri sebagai wilayah konservasi namun dinilai minim realisasi program di lapangan.
Tak hanya menyasar eksekutif, gerakan ini juga mengkritik peran perguruan tinggi yang dinilai terlalu banyak menyimpan riset tanpa implementasi. Almuhery mendesak kalangan akademisi untuk terlibat langsung dalam aksi perbaikan lingkungan.
“Penghuni menara gading yang disebut akademisi atau kampus harus terjun bersama mengimplementasikan ilmu dan teori yang selama ini tersimpan di file laptop dan PC lemari kaca,” ucapnya.
Desakan ini muncul karena banyak penelitian tentang ekologi Lampung yang dianggap tidak pernah sampai pada tahap aksi nyata yang bisa dirasakan masyarakat.
Almuhery juga mengingatkan bahwa tanggung jawab pemulihan lingkungan tidak hanya berada di pundak pemerintah. Perusahaan negara maupun swasta yang beroperasi di Lampung diminta ikut ambil bagian dalam gerakan penghijauan.
“BUMN dan swasta yang ada menghisap dan melintas Bumi Lampung segera melakukan gerakan bersama sesuai rekomendasi Konferensi Sungai Indonesia untuk menghijaukan kembali Sai Bumi Ruwa Jurai,” tandasnya.
Gerakan “Tobat Ekologis” ini merupakan tindak lanjut dari program yang dicanangkan Presiden Prabowo dan diimplementasikan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat. Almuhery menegaskan program tersebut harus segera dilaksanakan secara menyeluruh di seluruh wilayah Lampung.
“Jangan hanya retorika di media panggung seremonial. Kemarau dan penghujan jadi bukti nyata bahwa Bumi Lampung terdegradasi, dari hulu hingga hilir telah hancur,” katanya menegaskan urgensi aksi ini.