BANDARLAMPUNG — Realisasi luas tambah tanam padi di Lampung mencapai 439.660 hektare sejak Januari hingga Juli 2026. Angka tersebut setara 78,59 persen dari target yang ditetapkan sebesar 559.403 hektare untuk tahun ini.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung Endro Gunawan mengatakan capaian ini merupakan hasil pemantauan progres produksi pertanian secara berkala. Meski demikian, ia mengakui realisasi antar bulan masih bervariatif.
"Progres sejak Januari bervariatif, ada yang di atas 85 persen dan ada yang di bawah itu tepatnya di Juli, tapi nanti akan ditingkatkan kembali," ujarnya di Bandarlampung, Selasa.
Endro menyebut Agustus menjadi bulan krusial karena Lampung mulai memasuki musim kemarau. Kondisi ini berbeda dengan tahun lalu yang masih turun hujan akibat fenomena kemarau basah.
"Di periode ini harus bekerja keras terutama di Oktober-November untuk mencapai target yang telah ditetapkan," kata dia.
Untuk mengantisipasi kekeringan, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi. Irigasi perpipaan dan perpompaan disiagakan guna memastikan lahan tetap mendapat pasokan air.
Selain itu, penanaman padi gogo juga mulai didorong sebagai alternatif untuk menjaga produktivitas lahan kering. Endro menambahkan semangat petani saat ini tengah tinggi karena harga jual gabah dinilai menguntungkan.
Jika dirinci per bulan, capaian tertinggi terjadi pada Januari dengan realisasi 97,36 persen dari target 92.836 hektare, atau seluas 90.384 hektare. Sementara realisasi terendah terjadi pada Mei yang hanya mencapai 62,66 persen dari target 126.984 hektare, atau seluas 79.569 hektare.
Berikut rincian realisasi luas tambah tanam padi di Lampung Januari-Juli 2026:
Puncak pengejaran target akan dilakukan pada Oktober hingga November saat musim hujan diprediksi kembali tiba. Pemerintah optimistis sisa target sekitar 119.743 hektare dapat terkejar jika curah hujan normal dan infrastruktur irigasi berfungsi optimal.
Lampung menjadi salah satu lumbung pangan nasional yang berkontribusi signifikan terhadap produksi beras. Keberhasilan memenuhi target LTT tahun ini dinilai krusial untuk menjaga stok beras nasional tetap aman.