LAMPUNG — Banjir bandang yang disertai aliran batu dan lumpur meluluhlantakkan kawasan perbatasan Himalaya, menghancurkan rumah, bangunan, dan kendaraan dalam hitungan menit. Otoritas Nepal mencatat 157 korban jiwa di wilayahnya, sementara tiga orang tewas di sisi Tibet, China. Stasiun televisi pemerintah China, CCTV, melaporkan 265 orang hilang di kawasan Gyirong, Tibet, dekat perbatasan.
Kementerian Pariwisata Nepal menyebut lebih dari 400 turis hilang, dan sekitar 340 di antaranya merupakan warga negara asing. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengonfirmasi 34 warga Australia termasuk dalam daftar orang hilang. Perusahaan pendakian asal Amerika Serikat, Himalayan Glacier, melaporkan 15 warga Australia yang mengikuti tur mereka belum ditemukan di Lembah Langtang.
Lokasi Terdampak dan Jalur Evakuasi yang Terputus
Banjir melanda dekat rute populer menuju Kailash Manasarovar di Tibet, lokasi yang setiap tahun dikunjungi ratusan peziarah Hindu, serta Taman Nasional Langtang yang menjadi tujuan pendakian favorit. Editor senior Nepal Television, Devendra Subedi, mengatakan banjir datang tiba-tiba saat cuaca sedang cerah.
"Tiba-tiba dengan suara yang dahsyat, sungai meluap dan menghanyutkan beberapa permukiman. Hampir semuanya hanyut di hingga lima distrik," ujarnya kepada ABC's The World. Ia menambahkan, "Bagian terburuknya adalah komunikasi menjadi sulit karena sebagian besar jalur komunikasi telah hanyut oleh banjir."
Penyebab: Gempa, Longsor Gletser, atau Es Mencair?
Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, awalnya menduga gempa bumi memicu longsoran salju dan es yang mengakibatkan banjir di sepanjang Sungai Bhote Koshi di Rasuwa. Namun, para pakar iklim dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu meyakini longsoran gletser sebagai penyebab paling mungkin.
"Pengamatan hidrologi menunjukkan kecepatan dan besarnya gelombang banjir yang luar biasa," demikian pernyataan para peneliti ICIMOD. Permukaan air sungai naik hingga 9 meter hanya dalam setengah jam pada puncak banjir. Otoritas penanggulangan bencana Nepal juga menyatakan data satelit mengindikasikan "longsoran salju-batu" di perbatasan Nepal-China mungkin memicu bencana ini.
Operasi Penyelamatan Terkendala Akses dan Komunikasi
Juru bicara militer Nepal, Raja Ram Basnet, mengatakan helikopter penyelamat belum dapat mendarat di daerah terdampak sampai air surut. Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, mendesak masyarakat untuk bersabar dan bersatu. "Saya ingin meyakinkan kalian tidak sendirian di masa sulit ini, negara bersama kalian dengan segala cara dan apa yang kita miliki," katanya.
Presiden China, Xi Jinping, mendesak upaya pencarian sepenuhnya serta penguatan sistem pemantauan dan peringatan dini untuk mencegah bencana susulan. Media pemerintah China melaporkan akses ke daerah tersebut terputus total dan saluran komunikasi lumpuh.
Australia dan Negara Lain Desak Warganya Patuhi Anjuran Keselamatan
Kedutaan Besar Australia di Nepal, bersama Inggris dan negara lain, mengeluarkan pernyataan bersama mendesak warganya yang terdampak untuk mengikuti panduan otoritas setempat. "Doa kami bersama semua yang terkena dampak bencana ini. Kami menyampaikan solidaritas kami kepada rakyat Nepal selama masa sulit ini," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Kantor Luar Negeri Inggris menyatakan "sangat sedih atas kehilangan nyawa dan kehancuran", sementara Departemen Luar Negeri AS memantau situasi dengan cermat. "Kedutaan Besar bekerja sama erat dengan agen wisata lokal dan otoritas setempat untuk membantu warga Amerika di daerah yang terkena dampak," kata seorang juru bicara.
Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, mengakui sulitnya mendapatkan informasi akurat dari Nepal. "Nepal adalah negara yang berkembang. Tidak punya cukup sarana seperti di Australia. Jadi informasi sangat sulit," ujarnya. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung hingga saat ini, dengan pihak berwenang memperingatkan potensi banjir susulan di kawasan yang sama.