LAMPUNG — Konsentrasi pengungsi terbesar berada di dua kecamatan yang menjadi episentrum terdampak. Data Posko Tanggap Darurat Penanggulangan Bencana setempat mencatat 12.635 orang mengungsi di Sambi Rampas dan 11.582 orang di Lamba Leda Utara, atau mencakup lebih dari 80 persen total pengungsi. Mayoritas warga di kedua wilayah ini tidak menempati tenda terpusat, melainkan mendirikan posko mandiri di tanah lapang atau halaman rumah yang masih berdiri.
Sebaran pengungsi lainnya tersebar di Borong (1.743 orang), Lamba Leda (1.215 orang), Lamba Leda Selatan (1.080 orang), dan Elar (685 orang). Kecamatan dengan jumlah pengungsi terkecil tercatat di Elar Selatan dengan 25 orang.
Dari total 683 korban jiwa yang terdampak langsung, 239 orang mengalami luka berat dan 404 orang luka ringan. Kelompok rentan menjadi perhatian khusus petugas: sebanyak 459 ibu hamil kini berada di berbagai posko, dengan jumlah terbanyak di Sambi Rampas (124 orang) dan Borong (51 orang). Mereka membutuhkan layanan pemeriksaan kandungan serta fasilitas persalinan darurat yang memadai.
Kerusakan infrastruktur tidak hanya melanda rumah tinggal. Sekolah, puskesmas, jembatan, irigasi, hingga jaringan air bersih dan sanitasi hancur. Lamba Leda Utara dan Lamba Leda Selatan tercatat sebagai wilayah dengan kerusakan terparah. Puluhan ruas jalan penghubung antarkecamatan terputus, menghambat distribusi logistik ke lokasi pengungsian yang sulit dijangkau.
Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Daerah (Prokopim) Manggarai Timur, Jeany Wajong, mengakui keterbatasan akses menjadi kendala terbesar di lapangan. Pemerintah daerah bersama TNI, Polri, tim SAR, dan relawan saat ini memprioritaskan pembukaan jalur logistik serta pendirian tenda darurat.
"Angka-angka ini bukan sekadar data, ini warga kita yang kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berlindung. Fokus utama kami saat ini adalah memastikan tenda darurat, makanan, pelayanan medis, dan pemulihan jalur transportasi segera terjangkau di setiap titik pengungsian," ujar Jeany kepada CNNIndonesia.com, Kamis (2/9).
Ia menambahkan, pembaruan data akan dilakukan secara transparan dan berkala. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat luas dapat memantau perkembangan penanganan bencana serta memastikan bantuan tepat sasaran, terutama bagi warga di kecamatan terpencil yang belum tersentuh logistik sejak hari pertama gempa.