Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan mesin pengering (dryer) berkapasitas 20 ton untuk menguatkan hilirisasi jagung di daerahnya. Gubernur Rahmat Mirzani Djausal meminta petani tidak lagi menjual seluruh hasil panen dalam kondisi basah agar nilai jual komoditas meningkat.
BANDARLAMPUNG — Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong petani jagung menghentikan kebiasaan menjual hasil panen dalam keadaan basah. Ia menegaskan proses pengeringan menjadi kunci utama untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tersebut di tingkat petani.
"Jagung yang dihasilkan di masing-masing kecamatan harus diupayakan untuk dikeringkan, jangan dijual dalam kondisi basah," kata Rahmat di Bandarlampung, Selasa.
Dorongan ini disertai penyiapan infrastruktur nyata. Pemprov Lampung telah mengoperasikan mesin pengering berkapasitas 20 ton yang ditargetkan membantu penanganan pascapanen di sentra-sentra produksi jagung.
Dari Pengeringan ke Industri Pakan Ternak
Jagung kering yang dihasilkan tidak akan berhenti sebagai komoditas mentah. Rahmat menyebut hasil olahan tersebut selanjutnya dapat diserap sebagai bahan baku industri pakan ternak, sehingga rantai nilai komoditas ini bisa terus dikembangkan di dalam provinsi.
Ia bahkan membayangkan integrasi lebih jauh dengan usaha peternakan ayam di perdesaan.
"Pengembangan tersebut tidak hanya berhenti pada produksi pakan, tetapi juga dapat dilanjutkan dengan pengembangan usaha peternakan ayam di desa-desa. Konsep ini merupakan bentuk hilirisasi pertanian sekaligus upaya menciptakan nilai tambah bagi petani," ujarnya.
Menurut Rahmat, peningkatan produktivitas pertanian harus berjalan beriringan dengan hilirisasi. Tanpa hilirisasi, produksi yang melimpah justru berisiko membuat harga anjlok di tingkat petani.
"Ketika harga jagung anjlok, masyarakat ikut merasakan tekanan ekonomi. Sebaliknya, harga yang baik akan memberikan manfaat bagi petani dan masyarakat secara luas," jelasnya.
Target Produktivitas di Atas 10 Ton per Hektare
Di sisi hulu, Pemprov Lampung juga mengejar peningkatan produktivitas lahan. Saat ini produktivitas sejumlah lahan jagung di Lampung Selatan tercatat berkisar enam hingga delapan ton per hektare.
Angka tersebut dinilai masih berpeluang dinaikkan hingga lebih dari 10 ton per hektare. Salah satu instrumen yang diandalkan adalah pupuk hayati cair (PHC) yang telah diuji coba di sejumlah lokasi.
Pupuk tersebut direncanakan dibagikan secara gratis kepada petani. "Dengan penggunaan pupuk hayati cair dari Pemerintah Provinsi Lampung, produktivitas petani dapat meningkat. Program tersebut telah diuji coba di sejumlah lokasi," kata Rahmat.
Konsep Hilirisasi Menyasar Komoditas Lain
Strategi penguatan nilai tambah ini tidak berhenti pada jagung. Rahmat menyebut konsep serupa bakal diterapkan pada komoditas unggulan Lampung lainnya, seperti padi, kelapa, dan singkong.
"Salah satu yang menjadi perhatian adalah komoditas jagung. Jadi dengan hilirisasi, jagung hasil panen petani tidak seluruhnya dijual dalam kondisi basah, melainkan dikeringkan terlebih dahulu sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi," ujarnya.
Berdasarkan data Pemprov Lampung, produksi jagung di provinsi ini pada 2026 mencapai 1,25 juta ton. Angka tersebut dihasilkan dari luas tanam 194.487 hektare dengan nilai ekonomi ditaksir mencapai sekitar Rp7,58 triliun.
Ketersediaan fasilitas pengeringan di tingkat kecamatan menjadi langkah awal yang krusial, pasalnya sebaran produksi jagung di Lampung tidak terkonsentrasi di satu wilayah. Menjamin akses petani terhadap dryer menjadi prasyarat agar target hilirisasi yang dicanangkan pemprov dapat berjalan efektif.